Cerita Sex Bidadari Tak Bersayap

Gambar
Dua tahun. waktu lalu saya merupakan ketua organisasi remaja, hingga saya makin di kenal oleh beragam kelompok di lingkunganku. Kebetulan di lingkunganku banyak gadis remaja yang cantik-cantik. Termasuk juga pacarku yang saat ini adalah satu diantara gadis sebagai incaran anak-anak muda di lingkungan itu. Tak tahu mengapa dia ingin jadi pacarku. Sebenarnya saya suka pada sebagian gadis cantik terkecuali pacarku itu, namun saya berfikir 2 x bila saya melakukan perbuatan beberapa macam pastinya akan jadi bahan omongan di lingkunganku. Singkat narasi, saya tergoda oleh satu diantara anak tetangga orangtuaku, sebut saja Mery (nama samaran).  togel sgp, Walau sebenarnya saya telah merajut asmara dengan gadis yang tetanggaku. Kami bahkan juga telah bertunangan. Mery yaitu seseorang mahasiswi. Ia memiliki body yang begitu menggoda, meskipun agak sedikit gemuk, namun ia memiliki bibir yang sexy serta memiliki payudara memiliki ukuran 36B.  4d singapore, Jadi deskripsi, body-...

Cerita Sex Ibu Kost Wati Yang Sangat Menggairahkan



Slotberita- terus ngobrol sebentar, kebetulan Hengki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Wati mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Wati.Bu Wati lumayan baik terhadap Hengki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Hengki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Wati masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Hengki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Hengki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Wati.

Sampai satu hari waktu itu masih sore jam 4. Hengki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok tok..tok..tok.. lalu suara bu Wati yang manggil,”Hengki ada di dalem gak?” Sontak Hengki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Hengki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Wati pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Wati,” Hengki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Hengki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu.”

Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Wati jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Hengki, ibu tunggu di sini ya” eh ternyata masuk ke kamar, Hengki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Hengki.
Sekitar lima belas menit Hengki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Wati bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Wati sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Hengki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.

Bu Wati tersenyum manis melihat Hengki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Hengki” bu Wati membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya” gurau bu Wati sambil sejenak melirik dada bidang Hengki. “ah ibu bisa aja biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Hengki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Wati mendekat dan duduk di samping Hengki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu”ucap bu Wati. Hengki jadi kikuk,”wahduh kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie” jawab Hengki dengan sedikit memohon.

Bu Wati terlihat sedikit berpikir”mmmm boleh deh, tapi jangan lama-lama ya emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Wati sedikit menyelidik. “hmmm pasti buat cewe mu ya”dia terlihat kurang senang.

“ah nggak juga kok bu.. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Hengki hati-hati melihat raut wajah bu Wati yang kurang senang.

“huh laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh sama aja dengan suamiku.”keluh bu Wati dengan nada kesal.

Waduh nampaknya bu Wati lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Hengki. Dengan cepat Hengki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok”

“hhhhh.”bu Wati menghela nafas,”udahlah Hengki, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”

sedikit penjelasan bahwa bu Wati ini istri pertama dari pak Kasno, sedangkan istri keduanya bu Tari. Dan sekarang sepertinya pak Kasno lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Tari dan bu Wati tampaknya udah mulai kesepian nie

“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu. “jawab Hengki kikuk

“gak apa-apa Hengki, ibu hanya mau curhat aja sama kamu boleh kan Heng?” suara bu Wati sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Wati terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Hengki.

“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Karno kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Tari,”Hengki bermaksud menghibur.

“ah kamu Hengki emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Wati menatap sendu ke arah Hengki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh. ingin rasanya Hengki menghapus air mata itu, pak Karno emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Hengki bisa berbuat sesuatu busyet Hengki memaki dalam hati “kenapa otak gua jadi kotor gini.”

Dengan sedikit gugup Hengki menjawab,”mmmeeeiya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss . Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut gerutu Hengki dalam hati. Hengki jadi panik, jangan-jangan bu Wati marah dengan ucapan Hengki. Tapi ternyata Hengki salah, karena bu Wati tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Hengki bisa aja menghibur. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie” rona wajah bu Wati berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Heng, apa ibu emang gak menarik lagi?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Hengki minta penilaian. Terang aja Hengki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu? Takutnya nanti di bilang lancang lho tapi kalo mau jujur. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”

Bu Wati tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja ibu udah 43 lho.. emang Hengki liat dari mananya bisa bilang begitu?”

Hengki jadi cengar cengir,” .itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”

Bu Wati kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Hengki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu. Bilang aja”

Nafas Hengki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Wati, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Hengki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Wati mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Hengki memperhatikan bahwa bu Wati memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Hengki beralih ke bagian depan uupss terlihat belahan dada yang hmmm sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Wati di paha Hengki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Wati. Dengan penuh selidik bu Wati bertanya,”lho kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an”

Hengki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Wati,”mmm eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang masih sangat menggoda”

Tidak ada jawaban dari mulut bu Wati, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Wati makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Hengki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Hengki menyambut bibir merah bu Wati, desahan nafas mulai terasa berat hhhhhhhh ciuman terus bertambah dahsyat, bu Wati menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Hengki, dan dibalas dengan lilitan lidah Hengki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tangan Hengki merambat naik ke bahu bu Wati, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Hengki meraba bahu bu Wati sampai ke lehernya. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut HEngki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhhhhhh” nafas bu Wati mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Wati tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Hengki melingkari pinggang Hengki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya

Uupps. Hengki tersentak dan sadar.,”upshhh maaf bu maaf bu saya terbawa suasana.” Hengki tertunduk tak berani menatap bu Wati sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Wati.

Terlihat bu Wati pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Heng kita sudah memulainya dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam kamu harus menyelesaikannya Heng” tatapan bu Wati terlihat semakin sendu
“mmm ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu bisa gawat dong pak Karno juga bisa marah besar bu” jawab Hengki.

Tanpa menjawab bu Wati bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Hengki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Wati. Kemudian dengan tenang bu Wati melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Hengki itu nampak gerakan bokong bu Wati naik turun, dan perasaan Hengki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Wati berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Hengki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Wati. Sampai bu Wati berdiri dekat di depan Hengki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Heng, dan gak ada yang akan mengganggu.”

Hengki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Wati kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Hengki mendekat dan duduk di samping bu Wati hmmm nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Hengki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.
Bu Wati yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Hengki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Hengki dengan nafsu yang membara. Hengki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Wati, tangan Hengki meremas payudara montok milik bu Wati. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Wati mendorong lembut badan Hengki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Hengki mendorong lembut tubuh bu Wati, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Hengki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya “HHHH. AHHH.MMMH.”suara bu Wati mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Hengki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Wati yang menggelinjang kegelian.

Hengki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Wati, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Wati mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Hengki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Wati yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama, Hengki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Wati dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH. MMMMH HHH Heng.UHH”desahan birahi yang memuncak dari bu Wati membuat Hengki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit Hengki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Wati tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Hengki. Ayo sayang masukkin Heng hhhhmmmmh.” Suara bu Wati ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Dengan tenang Hengki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Wati semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Hengki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Wati yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Hengki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penis Hengki amblas sampai setengahnya. Hengki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Wati,” AHHH.TERUSKAN HENG.AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Hengki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Hengki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Wati mencengkam punggung Hengki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMHMHHHHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Hengki dan bu Wati. Sesaat Hengki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Wati memeluk Hengki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Wati memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Wati memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Hengki lebih dalam. Hengki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Wati. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Wati seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Hengki membalikkan posisi, bu Wati kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Hengki meneruskan pertempuran. “HengAHH..AH..AH..UHTERUS HENG. AHHHAHH IBU SAMPAIHENG.AHHHHHHHHH MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan bu Wati mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Hegki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Hengki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Hengki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Wati. Yang dengan cepat meraih penis Hengki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Wati mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Hengki membaringkan tubuhnya disamping bu Wati. Terdiam untuk beberapa saat.
Bu Wati bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Hengki. “makasih ya sayang ini rahasia kita berdua I love u Hengki,” bisik mesra bu Wati di telinga Hengki.

“mmmbaik bu”belum sempat Hengki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Wati menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong”ucap bu Wati manja.

“iya sayang.” Balas Hengki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Wati.

Setelah itu dengan cepat Hengki dan bu Wati merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Hengki, bu Wati berbisik mesra,”sayang tar malem suamiku gak ada di rumah.. aku tunggu di kamar ya berapa ronde pun dilakoni buat Hengki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Hengki menyanggupi ajakan bu Wati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Sex Bercinta Dengan Dokter Terapi Seks Ku

Cerita Sex Sedarah Dihamili Adik Kandung

Cerita Sex Kasarnya Cewek Satu Kosanku

CafeSlots777 | Play The Best Slots Online

CafeSlots777 | Play The Best Slots Online
Ayo Gabung Bersama Kami Bandar Slot Terpercaya dengan bonus SETIAP Deposit 20% dan masih bonus lainnya menanti anda,tunggu apalagi langsung saja di kepoin diwebsite cafeslots777,biz Menyedikan Permaianan Online